Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Acuan Merespon Setiap Perilaku Dalam Rangka Pendidikan Disiplin

tendikpedia.com

Disiplin juga merupakan proses pelatihan pikiran dan karakter, untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan diri sendiri, dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai tertentu. Dalam disiplin ada tiga unsur yang penting, yaitu (1) hukum/peraturan yang berfungsi sebagai pedoman penilaian, (2) sanksi atau hukuman bagi pelanggaran, dan (3) hadiah untuk sikap perilaku atau usaha yang baik.

Ada beberapa hal pokok yang dapat menjadi acuan sebagai dasar merespon setiap perilaku dalam rangka pendidikan disiplin, diantaranya adalah sebagai berikut :

Berkelanjutan
Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan, artinya disiplin tidak hanya diberikan setelah anak masuk sekolah atau setelah masa remaja, tetapi harus sudah dilatih sejak anak baru dilahirkan ke dunia ini. Sejak anak membutuhkan kedekatan dengan orang dewasa, membutuhkan kasih sayang orang dewasa, orang tua dapat memulai mendidik disiplin dengan menunjukkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang jelek.

Autoritatif
Pendidikan dipilih sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang terlalu otoriter tetapi juga tidak terlalu memperbolehkan semuanya (permisif). Cara yang tepat dalam pendidikan disiplin bagi remaja disebut istilah moderatnya autoritatif; fleksibel, tetapi bila perlu tegas.

Berikan Batasan yang Jelas
Batas-batas tentang boleh atau tidak boleh. Sejak masa kanak-kanak, orang tua harus sudah memberikan batasan-batasan tersebut. Misalnya: anak boleh menggambar dengan pensil warna di kertas-kertas, di papan yang telah ditentukan, tetapi tidak boleh di buku pelajaran kakaknya, buku ayah atau ibu dan tidak boleh menggambar di tembok.

Konsisten dan Fleksibel
Setelah batas-batas ditentukan, maka orang tua harus mengupayakan kesepakatan dengan anaknya untuk saling mematuhi apa yang telah ditentukan. Walau demikian, batas-batas yang ditentukan ini harus terus direvisi sesuai dengan perkembangan anak dan anak telah mencapai remaja maka penentuannya harus mengikutsertakan masukan dari remaja.

Menjelaskan Secara Lengkap
Terkadang seorang anak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua dengan alasan karena ia tidak tahu. Untuk mengatasi hal tersebut maka orang tua sangat perlu menjelaskan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, apa dampaknya jika dilakukan atau tidak dilakukan, dan sebagainya. Janganlah menganggap bahwa anak selalu mempunyai pertimbangan sematang orangtua (meski harus diakui ada remaja yang jauh lebih matang cara pandang/pikir dari orang tuanya).

Berlatih
Orang tua hendaknya mengarahkan anak untuk mengembangkan pola-pola kebiasaan yang baik. Kebiasaan-kebiasaan baik tersebut harus sudah dilatih terus-menerus sejak usia dini, misalnya anak dibiasakan mematuhi jadwal belajar dan bermain, tidur dan bangun pagi secara teratur dan sebagainya.

Hukuman
Hukuman yang mendidik adalah hukuman yang menyadarkan pihak remaja, dia harus sadar bahwa hal yang baru saja terjadi hendaknya tidak diulangi karena hal tersebut tidak disetujui orang tua. Hukuman haruslah dipandang sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan yang melanggar batasan-batasan yang ditetapkan. Jika harus memberikan hukuman, hukumlah anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak tentang hukuman tersebut.

Komunikasi
Dalam komunikasi sehari-hari banyak masalah yang berhubungan dengan disiplin sebenarnya dapat diselesaikan dengan menggunakan komunikasi timbal balik yang efektif antara anak dan orang tua. Komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan, merendahkan harga diri orang lain hendaknya digunakan seminimal mungkin, bahkan harus dihindari sama sekali. Anak dan remaja sangatlah peka terhadap hal ini dan dapat sakit hati karenanya, jika cara-cara tersebut yang digunakan untuk mendisiplinkan anak akan cenderung ditiru dalam hubungan interpersonal dengan orang-orang lain.

*Dari berbagai sumber