Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

penelitian tindakan kelas

Dalam konteks pekerjaan guru, penelitian tindakan yang dilakukan guru disebut penelitian tindakan kelas yaitu suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut.

Tindakan yang secara sengaja dimunculkan tersebut diberikan oleh guru atau berdasarkan arahan guru yang kemudian dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini arti kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005).

PTK mempunyai karakteristik tersendiri jika dibandingkan dengan penelitianpenelitian lain pada umumnya. Berikut adalah beberapa karakteristik PTK.
  1. Guru merasa bahwa ada permasalahan yang mendesak untuk segera diselesaikan di dalam kelasnya. 
Guru menyadari bahwa praktik pembelajarannya ada yang harus dibenahi sehingga guru perlu melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki persoalan tersebut. PTK akan dapat dilaksanakan jika guru memang sejak awal menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang dihadapi di kelas, kemudian dari persoalan itu guru menyadari pentingnya persoalan tersebut untuk diperoleh secara profesional. Jika guru merasa bahwa praktik pembelajaran sehari-hari di kelas tidak bermasalah, maka PTK tidak perlu diperlukan.
  1. Refleksi Diri
Refleksi merupakan ciri khas PTK yang paling esensial. Refleksi yang dimaksud adalah melakukan intropeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa saja tindakan yang telah dilakukan di dalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa dampaknya menjadi demikian, dan sebagainya. Atas dasar refleksi itu, guru dimungkinkan untuk memeriksa dirinya sendiri, terutama terkait kelemahan dan kelebihan dari pola pembelajaran yang telah ia praktikkan, kemudian guru berusaha mengatasi berbagai kelemahan tersebut.
  1. Kolaboratif
Kolaboratif merupakan upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi guru harus berkolaborasi dengan guru lain atau kepala sekolah. PTK merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Kolaborasi ini tidak bersifat basabasi, tetapi harus tampil dalam keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan PTK sampai dengan menyusun laporan hasil penelitian.
  1. PTK dilakukan di dalam kelas
Kelas yang dimaksud di sini tidak sebatas pada sebuah ruang tertutup yang dibatasi dinding dan pintu. Kelas yang sesungguhnya adalah semua “tempat” di mana terjadi proses pembelajaran antara guru dan siswa. Jadi, boleh-boleh saja PTK dilakukan di ruang terbuka, seperti dalam pelajaran olahrarga yang dilakukan di lapangan, yang terpenting dalam PTK bukanlah kelas atau ruangnya, tetapi fokus perhatian penelitian kepada proses pembelajaran dalam bentuk interaksi guru dan siswa.
  1. PTK bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran secara terus-menerus.
PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan secara terus-menerus selama PTK dilakukan. Siklus demi siklus di dalamnya harus mencerminkan perbaikan demi perbaikan yang dicapai. Siklus sebelumnya merupakan dasar bagi siklus selanjutnya. Hasil pada siklus berikutnya seharusnya jauh lebih baik dari pada siklus sebelumnya.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan pendidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik dan pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.

Menurut MCNiff (dalam Suharsimi Arikunto, dkk), dasar utama dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan. Kata perbaikan di sini terkait dengan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. Sementara itu, Borg (dalam Suharsimi Arikunto, dkk) juga menyebut secara eksplesit bahwa tujuan utama PTK adalah pengembangan keterampilan proses pembelajaran yang dihadapi oleh guru di kelasnya, bukan bertujuan untuk mencapai pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Dalam PTK ada 3 komponen yang harus menjadi sasaran utama PTK, yaitu siswa/ pembelajaran, guru dan sekolah. Tiga komponen itulah yang akan menerima manfaat dari PTK. 

1) Manfaat bagi siswa dan pembelajaran

Dengan adanya pelaksanaan PTK, kesalahan dan kesulitan dalam proses pembelajaran (baik strategi, teknik, konsep dan lain-lain) akan dengan cepat dianalisis dan didiagnosis, sehingga kesalahan dan kesulitan tersebut tidak akan berlarut-larut. Jika kelasalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki, maka pembelajaran akan mudah dilaksanakan, menarik dan hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan perbaikan haisl belajar siswa. Keduanya akan dapat terwujud jika guru memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan PTK.

2) Manfaat bagi guru

Berikut adalah beberapa manfaat bagi guru dengan melaksanakan PTK.
  1. Guru memiliki kemampuan memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Keberhasilan dalam perbaikan ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru karena guru telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siswanya melalui proses pembelajaran yang dikelolanya.
  2. Guru dapat mengembangkan dan meningkatkan kinerjanya secara professional karena guru mampu menilai, merefleksi diri dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya. Dalam hal ini, guru tidak lagi hanya seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama ini, namun juga sebagai peneliti dibidangnya yang selalu ingin melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
  3. Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri. Guru tidak hanya menjadi penerima hasil perbaikan dari orang lain, namun guru itu sendiri berperan sebagai perancang dan pelaku perbaikan tersebut, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teori-teori dan praktik pembelajaran.
  4. Guru akan merasa lebih percaya diri. Guru yang selalu merefleksi diri, melakukan evaluasi diri dan menganalisis kinerjanya sendiri dalam kelas, tentu saja akan selalu menemukan kekuatan, kelemahan dan tantangan pembelajaran dan pendidikan masa depan dan mengembangkan alternatif masalah atau kelemahan yang ada pada dirinya dalam pembelajaran. Guru yang demikian adalah guru yang memiliki kepercayaan diri yang kuat.
3) Manfaat bagi sekolah

Sekolah yang para gurunya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerjanya secara professional, maka sekolah tersebut akan berkembang pesat kaitannya dengan PTK. Sekolah yang para gurunya memiliki keterampilan dalam melaksanakan PTK akan memperoleh manfaat yang besar yaitu meningkatnya kualitas pembelajaran yang mencerminkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

*dikutip dari berbagai sumber.